PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Penggunaan Media Flash Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Mempelajari Prinsip-prinsip Pada Pembelajaran Elektronika Dasar di kelas X SMK N 2 Pandeglang

clip_image002

Disusun oleh:

Nama : Tubagus Entus M (5215087449)

Prodi : Pendidikan Teknik Elektronika

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2010

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Proposal Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul “Penggunaan Media Flash Untuk Meningkatkan kemampuan Siswa dalam mempelajari Prinsip-prinsip Pada Pembelajaran Elektronika Dasar di kelas X SMK N 2 Pandeglang”. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Metodologi Penelitian.

Dalam penyusunan proposal ini kami menyadari akan keterbatasan kemampuan, pengetahuan maupun pengalaman, namun berkat kerja sama yang baik maka akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, tetapi kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami serta bagi para pembaca yang budiman. Segala kritik serta saran akan penulis jadikan masukan yang sangat berarti dan bermanfaat.

 
 

Jakarta, Januari 2011

Penyusun

Penulis

A. JUDUL PENELITIAN

Penggunaan Media Flash Untuk Meningkatkan kemampuan Siswa dalam mempelajari Prinsip-prinsip Pada Pembelajaran Elektronika Dasar di kelas X SMK N 2 Pandeglang.

B. BIDANG KAJIAN

Penelitian ini meliputi Bidang Kajian sebagai berikut :

  1. Penggunaan Media Flash dalam pelaksanaan belajar dan mengajar.
  2. Kemampuan siswa dalam mempelajari kerja rangkaian sederhana seperti, arah arus, tegangan pada setiap rangkaian yang berbeda (seri/pararel) atau berlangsungnya kerja RLC.

C. PENDAHULUAN

Elektronika adalah salah satu materi pelajaran Penerapan Konsep Dasar Listrik dan Elektronika untuk kelas X. elektronika atau kelistrikan khususnya arus lemah sangat sulit diterangkan bagi siswa yang baru mengenal elektronika sebab sebagian besar materi yang diterangkan terkadang abtrak seperti bagaimana arus itu bergerak, bagaimana pemabagian tegangan pada sebuah rangkaian, disamping itu kini kurikulum telah dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan, guru memiliki kewenangan penuh dalam memiliih metode belajar yang baik yang bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi pelajar dalam memahami materi kelistrikan, kemajuan meultimedia pembelajarn tidak hanya terpaku pada 1 media presentasi saja yaitu powerpoint, pada saat ini sudah berkembang pembelajaran multimedia Flash dalam mempresentasikan materi sebab aplikasi/animasi dalam gerak dapat ditayangkan dan ditampilkan secara bersamaan. Berkaitan dengan materi ajar abstrak seperti elektronika, guru atau pengajar dapat mensiasati media pembelajaran ini untuk memudahkan permasalahan yang sering terjadi, seperti kekurangpahaman siswa dalam menagkap hal abstrak dan guru pun tidak terlalu sulit menjelasknnya, media flash dapat dibuat sebuah animasi bergerak dan tidak hanya sebagai media presentasi terpusat dengan demikian pembelajaran dapat lebih efektif dan efisien.

Penyampaian materi dengan menggunakan media LCD Proyektor / DLP adalah salah satu perangkat dalam mempresentasikan Flash ini karena LCD sudah sangat popular memungkinkn dapat membantu guru dalam menjelaskan materi.

Atas dasar kenyataan inilah, maka perlu dicari alternatif lainnya dengan melakukan inovasi dan pendekatan dalam penggunaan media pembelajaran untuk penyampaian materi ke pada siswa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung aktif, efektif, dan menyenangkan.
Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal yang diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan pemahaman siswa kelas X SMK Negeri 2 Pandeglang, dalam mempelajari materi Penerapan Konsep Dasar Listrik dan Elektronika. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan adalah pendekatan dengan metode presentasi audio/visual. Menurut Sudjana ( 1989 hal.30 ) yang termasuk dalam komponen pembelajaran adalah “tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian“.

Dengan menggunakan Media pembelajaran Presentasi Flash, akan merangsang siswa untuk lebih mudah memahami materi pembelajaran.

D. PERUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah dari PTK ini adalah :

Apakah penggunaan Media Flash dapat meningkatkan kemampuan Siswa dalam mengenal komponen elektronika dan memahami suatu rangkaian RLC dasar?

E. PEMECAHAN MASALAH

Sebagaimana telah dijelaskan pada latar belakang bahwa yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya tingkat kemampuan siswa kelas X SMK Bina Mandiri Bekasi dalam mempelajari materi Jaringan Internet.

Berdasakan identifikasi masalah dan pengamatan yang dilakukan pada setiap evaluasi hasil belajar, siswa yang dinilai menguasai dan dapat mengerjakan latihan dengan benar dan tepat sesuai dengan ketentuan dan cara-caranya berkisar 25% (9 orang) dari 36 siswa.
Berdasar kepada masalah yang telah diuraikan pada pendahuluan maka salah satu pemecahannya adalah dengan menggunakan Media Power Point sebagai media presentasi dalam proses pembelajaran, seperti dikemukakan oleh Winarno Surakhmad (1979 hal.184) bahwa memilih metode mengajar tidak bisa sembarang hal ini disesuaikan dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti :

a. Tujuan

b. Anak didik dengan berbagai jenis kematangannya

c. Situasi

d. Fasilitas : Kualitas dan kuantitas

e. Pribadi guru

Dari uraian di atas maka dalam pemecahan masalah ini diambil langkah-langkah pemecahan masalah sebagai berikut :

a. Menyusun rencana pembelajaran dan strategi pembelajaran yang lebih efektif sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.

b. Melakukan tes untuk mengelompokan siswa. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengerjakan tes.

c. Membuat materi pelajaran dalam bentuk presentasi media Flash.

d. Menggunakan media pembelajaran (LCD Proyektor) sebagai alat bantu untuk menjelaskan materi pelajaran.

F. TUJUAN PENELITIAN

Meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari rinsip-prinsip Pada Pembelajaran Elektronika Dasar

G. MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi Guru: melalui PTK ini Guru dapat mengetahui metode pembelajaran yang interaktif dan efektif meningkatkan sistem pembelajaran serta meminimalkan kesalahan siswa dalam mempelajari rangkaian elektronika.

2. Bagi siswa: hasil penelitian ini bermanfaat bagi semua siswa karena terjadi pembelajaran mandiri yang menarik.

3. Bagi Sekolah: hasil penelitian ini membantu memperbaiki pembelajaran Elektronika di sekolah.

H. KAJIAN PUSTAKA

1. Memahami prinsip elektronika dasar.

1.2 Rangkaian dasar RLC

Sebagaimana yang terkandung dalam Standar kompetesi dan Kompetensi dasar mata elektronika, bahwa untuk siswa kelas X diberikan materi pelajaran elektronika dasar dan membangun menjadi sebuah rangkaian dengan fungsi kerja yang diinginkan. 

1.2.1 Mengamati visualisasi tentang prinsip-prinsip elektronika:

– Fungsi komponen RLC.

– Rangkaian RLC sederhana.

1.2.2 Mengamati arah arus pada rangkaian sederhana.

1.2.3 Mengamati setiap kerja yang dibangun oleh setiap fungsi dan jenis komponen yang berbeda pada sebuah rangkaian.

Materi pelajaran dalam tampilan Flash / (media gerak)

2. Hakikat, Interaksi dan Hasil belajar

a. Hakikat Belajar

Menurut Bagne seperti yang dikutip oleh M. Purwanto ( 1990 : 84 ) menyatakan bahwa: “ Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa hingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi “, sementara itu Edward Thorndike (1973) berpendapat, bahwa belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Belajar mencakup semua aspek tingkah laku dan dapat dilihat dengan nyata, proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu terjadi dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi belajar bukan merupakan tingkah laku yang nampak tetapi merupakan proses yang terjadi secara internal dalam diri individu dalam usahanya memperoleh hubungan yang baru. Hubungan baru dapat berupa antara reaksi-reaksi, perangsangan-perangansangan dan reaksi.

Dari uraian tentang belajar di atas, dapat kita ambil kesimpulan betapa pentingnya proses belajar dan kehidupan manusia. Untuk itu perlu kiranya kita menyusun sendiri prinsip-prinsip belajar. Dalam hal ini Slameto (19991:27-28) mengemukakan prinsip-prinsip belajar, sebagai berikut:

1) Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan berpartisipasi aktif meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.

2) Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu memiliki struktur, penyajian yang sederhana sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.

3) Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional.

4) Belajar itu proses kontinyu maka harus tahap demi tahap menurut discovery.

5) Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.

6) Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan intruksional yang harus dicapai.

7) Belajar memerlukan saran yang cukup,sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.

8) Belajar perlu lingkungan yang menantang, dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya ber-eksplorasi dan belajar dengan efektif.

9) Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya

b. Interaksi Belajar

Belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif. Belajar mengajar adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Dalam interaksi pembelajaran unsur guru dan siswa harus aktif, karena tidak mungkin terjadi proses interaksi bila hanya satu unsur yang aktif. Aktif dalam sikap, mental, dan perbuatan. Dalam sistem pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses, siswa harus lebih aktif daripada guru. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing. Inilah yang disebut dengan interaksi edukatif sebagimana yang dikemukakan Abu Achmadi dan Shuyadi, 1985:47), interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.

Ada tiga pola komunikasi antara guru dan anak didik dalam proses interaksi edukatif, yakni komunikasi sebagai aksi, komunikasi sebagai interaksi, dan komunikasi sebagai transaksi.

· Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah menempatkan guru sebagai pemberi aksi dan anak didik sebagai penerima aksi. Guru aktif, dan anak didik pasif. Mengajar dipandang sebagai kegiatan menyampaikan bahan pelajaran.

· Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah, guru berperan sebagai pemberi aksi atau penerima aksi. Demikian pula halnya anak didik, bisa sebagai penerima aksi, bisa pula sebagai pemberi aksi. Antara guru dan anak didik akan terjadi dialog.

· Komunikasi sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah, komunikasi tidak hanya terjadi antara guru dan anak didik. Anak didik dituntut lebih aktif daripada guru, seperti halnya guru, dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi anak didik lain.
Penggunaan variasi pola interaksi mutlak dilakukan oleh guru. Hal ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejenuhan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan.

c. Hasil Belajar

Belajar sangat erat hubungannya dengan prestasi belajar.Karena prestasi itu sendiri merupakan hasil belajar itu biasanya dinyatakan dengan nilai. Menurut Winarno Surahmad ( 1997 : 88 ) “Hasil belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku”.
Dapat diartikan bahwa hasil belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau Perubahan diri seseorang yang dinyatakan dengan cara bertingkah laku baru berkat pengalaman baru.
Hasil belajar merupakan hasil dari proses kompleks.Hal ini disebabkan banyak Faktor yang terkandung di dalamnya baik yang berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal.
Adapun faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:

· Faktor fisiologi seperti kondisi fisik dan kondisi indera.

· Faktor Psikologi meliputi bakat, minat, kecerdasan motivasi, kemampuan kognitif.
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar adalah :

Lingkungan : alam,masyarakat/keluarga .

· Faktor Instrumental : kurikulum/bahan pengajaran sarana dan fasilitas.

3. Motivasi belajar

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Motivasi tersebut perlu dimiliki oleh para siswa dan guru untuk memperlancar pembelajaran. Kaitannya dengan pembelajaran. motivasi merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya pada proses belajar siswa tanpa adanya motivasi, maka proses belajar siswa akan sukar berjalan secara lancar. Dalam konsep pembelajaran, motivasi berarti seni mendorong peserta didik untuk terdorong melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Motivasi adalah syarat mutlak dalam belajar, hal ini berarti dalam proses pembelajaran. Adakalanya guru membangkitkan dorongan, desire. incentive, atau memotivasi murid untuk aktif ambil bagian dalam kegiatan belajar (Rasyad, 2003:92). Upaya menggerakkan, mengarahkan, dan mendorong kegiatan murid untuk belajar dengan penuh semangat dan vitalitas yang tinggi dinamakan memberi motivasi. Banyak bakat anak tidak berkembang hal ini menurut Purwanto (2002:61) dikarenakan tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika seseorang mendapat motivasi yang tepat. maka lepaslah tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai hasil-hasil yang semula tidak terduga. Dalam proses pembelajaran para guru perlu mendesain motivasi yang tepat terhadap anak didik agar para anak didik itu belajar atau mengeluarkan potensi belajarnya dengan baik memperoleh hasil yang maksimal.

4. Media Presentasi Flash

Metode ini dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak presentasi yang dikembangkan Macromedia Flash dalam paket program aplikasi Flash. Dengan menggunakan program aplikasi Flash ini, materi pembelajaran dapat ditampilkan dalam bentuk tampilan/visual yang lebih menarik dan dapat pula disisipkan suara maupun gerak, selain itu mengikuti perkembangan media pembelajran yang efektif penggunaan Flash sudah banyak digunkan karena Media presentasi seperti powerpont tidak lah cukup tanpa aplikasi dan implikasi materi yang nyata dan dalam hal ini Flash mampu mendeskripsikan materi ajar jadi lebih mudah dipahami, sehingga menjadi lebih menarik dan interaktif. Dengan menggunakan bantuan LCD Proyektor atau DLP materi pembelajaran dalam bentuk Flash dapat ditayangkan pada layar sehingga penyampaian pesan kepada siswa lebih efektif meskipun ada kendala ruangan seperti yang disebutkan pada pendahuluan.

I. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah melalui penerapan langsung di kelas atau tempat kerja (Isaac, 1994:27). Sedangkan menurut Prof. Suhardjono (2006:56) mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan bagian dari penelitian tindakan yang dapat dipandang sebagai tindak lanjut dari penelitian deskriftif maupun eksperimen. Pada penelitian tindakan kelas bukan lagi mengetes sebuah perlakuan tetapi sudah mempunyai keyakinan akan ampuhnya sesuatu perlakuan.
1. Setting Penelitian :

– Lokasi Penelitian : SMK N 2 Pandeglang

– Subjek Penelitian : siswa kelas X sebanyak 36 orang, 6 siswa Perempuan dan 30 siswa laki-laki.

2. Sasaran Penelitian :

Dalam penelitian ini diharapkan :

– Siswa mengerti materi pelajaran yang diajarkan.

– Siswa dapat mengerjakan latihan-latihan dengan benar.

– terjadinya interaksi belajar

3. Rencana Tindakan :

SIKLUS PERTAMA

1) Perencanaan :

Pada tahap ini akan dilakukan :

· Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar untuk mata pelajaran TIK Kelas X, dan mengembangkan skenario pembelajaran.

· Menentukan pokok bahasan yang akan diajarkan pada setiap tindakan.

· Menjelaskan rangkaian dasar pada pembelajaran elektronika: 

– rangkaian dasar

· Menjelaskan kerja sebuah komponen elektronika yang dirangkai menjadi satu dan memahami prinsip-prinsip yang berlaku pada sebuah rangkaian elektronika.

2) Tindakan

Melaksanakan tindakan sesuai dengan skenario yang telah direncanakan, yaitu ;
Menyampaikan materi elektronika dasar dengan menggunakan Media Flash

3) Pengamatan

Pada tahap ini guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung, diantaranya :

– Mengamati interaksi belajar siswa saat ditayangkan materi pelajaran dalam media Flash 

– Menilai lembar kerja yang telah dikerjakan siswa.

4) Refleksi

Pada tahap ini dilakukan untuk evalusi seluruh tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan 

– Apakah materi yang disampaikan guru dengan menggunakan Flash yang ditayangkan proyektor dapat dimengerti siswa. Indikator yang dapat dilakukan adalah melihat hasil pada lembar latihan siswa. (jika hasilnya belum mencapai 75% maka akan lakukan perbaikan pada siklus kedua dengan materi yang sama, dan jika hasilnya sudah memuaskan maka pada siklus kedua akan disampaikan materiselanjutnya)

– Menyusun rencana perbaikan sesuai dengan kelemahan-kelemahan pada yang terjadi berdasarkan hasil pengamatan untuk digunakan pada siklus kedua.

SIKLUS KEDUA

1) Perencanaan

– Mengidentifikasi masalah pada siklus pertama dan menyusun alternatif pemecahannya.
– Menyiapkan media dan materi yang akan disampaikan.

2) Tindakan

– Guru menjelaskan materi elektronika dasar pada sebuah kerja dan fungsi rangakaian dengan menyisipkan suara maupun gerak pada tayangan presentasi media Flash.

– Pada menjelang akhir jam pelajaran Guru melakukan tanya jawab dan menjelaskan kesimpulan dari kegiatan belajar.

3) Pengamatan

– Guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung, diantaranya :

– Mengamati interaksi belajar ketika ditayangkan materi pelajaran dalam media presentarai menggunkan Flash 

– Menilai lembar kerja yang telah dikerjakan siswa.

4) Reflesksi

Pada tahap ini dilakukan evalusi seluruh tindakan berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian juga membuat suatu kesimpulan dari hasil pengamatan dan penilaian tersebut.

4. Cara Pengumpulan Data

Dari hasil pelaksanaan penelitian tindakan, ditentukan teknik pengumpulan data yang berorientasi pada observasi partisipasif (Wolcott,1992), yaitu peneliti melakukan observasi sambil ikut serta dalam kegiatan yang sedang berjalan. Pengambilan data dilakukan dengan Tes dan Observasi. Untuk memudahkan dan terkumpulnya data maka peneliti menggunakan format penilaian (unjuk kerja) dan format observasi dengan skala penilaian.

Format Observasi :

Aspek yang dinilai dan Skala Nilai

1. Materi yang disampai-kan guru dapat dimengerti oleh siswa – K / S / B / BS

2. Terjadi interaksi belajar – K / S / B / BS

K=Kurang, S=Sedang, B=Baik, BS=Baik Sekali

Format Penilaian (Unjuk Kerja)

No. Instrumen Skor (maks 10)

1 Fungsi setiap komponen elektronika dasar.

2 Rangkaian sederhana.

3 Menganalisa fungsi dan kerja rangkaian regulator. 

Jumlah skor perolehan maks = 30

Rumus Penilaian :

Nilai = jumlah skor perolehan : 30 

Kriteria Penilaian :

8 – 10 = Sangat Baik ( A)

7 – 7,9 = Baik (B)

6 – 6,9 = Cukup (C)

≥ 5,9 = Kurang (K)

5. Analisis Data

Untuk menganalisa data, peneliti menggumpulkan dan mengolah data secara kuantitatif dari format observasi dan format penilaian (unjuk kerja) dari setiap siklus sehingga dapat mengetahui persentase peningkatan hasil belajar yang kemudian dideskripsikan untuk diambil suatu kesimpulan.

6. Tim Peneliti

J. JADWAL PENELITIAN

No Rencana Kegiatan Waktu / Minggu ke : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1. Persiapan
Menyusun Konsep Pelaksanaan : x

Menyusun Instrumen pengamatan dan penilaian x

Mengadakan tes awal dan membagi kelompok x

2. Pelaksanaan
Mempersiapkan alat x x x x x x

Melakukan tindakan siklus I x x

Melakukan tindakan siklus II x x

3. Penyusunan Laporan

Menyusun Konsep Pelaporan x

Perbaikan laporan x

Penggandaan dan penyerahan laporan x

LAMPIRAN-LAMPIRAN :

1. Daftar Pustaka

Sukmadinata, Syaodih, Nana. 2005. Metode Penelitia., Bandung :
PT Remaja Rosdakarya.

Djamarah, Bahri, Syaiful. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi
Edukatif. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta :
PT Bumi Aksara.

Sagala, H.Syaiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung :
CV Alfabeta

Suwanda, Dodo. 2007. Diktat Belajar Komputer jilid 3 dan 4.

________. Belajar Penelitian Tindakan. Alamat web :
ardhana12.wordpress.com/2008/ 01/25/belajar-penelitian-tindakan-kelas-yuuuk/. Diakses pada tanggal 25 Nopember 2008

________. Metoda Pembelajaran. Alamat Web : http://www.salman-alfarisi.com
Diakses pada tanggal 25 Nopember 2008

2. Anggaran Biaya Penelitian

______________________


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: